Jumat, 23 Desember 2016

Jawab sendiri!

Jangan bersuara!
Jangan berdebat!
Jangan menghakimi!
Jangan menuntut sama!

Karena ditulisan saat ini hanya ada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya dapat kalian simpulkan sendiri. Pertanyaan yang dimana setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda. Ingat! Jawab dengan keyakinan kalian masing-masing, jangan ragu sebab aku sudah mendahuluinya dengan kata “Jangan”.

Baiklah, kita awali dengan cerita sederhana. Sesederhana dongen masa kecil.

            Saat matahari malu-malu menampakan sinarnya, awan pun ikut membantu menyembunyikan matahari seolah-olah tau apa yang matahari butuhkan. Ketika sang awan menemui satu diantara miliyaran penduduk bumi sedang bersedih, ia perlahan menurunkan butiran-butiran air ke bumi seolah-olah tau apa yang dibutuhkan seseorang itu.

            Perlahan aku merasakan tetesan air menyentuh tubuhku, semakin banyak mereka mendatangiku. Hujan, begitulah orang menyebutnya. Aku selalu suka hujan, bagiku hujan selalu mampu menemaniku saat sedih. Membantuku untuk menutupi aliran bening dari mata ini. Memberikanku kesempatan untuk menyatakan semua yang kurasa, di tengah derasnya dengan suara-suara menggebu dari langit.
       Apakah cinta harus berujung dengan benci? Apakah cinta mengenal kata bosan? Apakah cinta selalu ada tangisan? Jawablah. Aku hanya mampu menjawab pertanyaan yang terakhir, dan jawabannya “akan selalu ada”. Ku telusuri jalan licin dari kerikil hitam padat ini, menuju sebuah tempat yang menurutku paling indah, indah bila bersamanya. Tubuh ini menghantam miliyaran air dari langit, sama sekali tak mengeluh karena memang inilah yang dibutuhkan. Tiangku telah hilang, entah hilang selamanya atau nanti ia akan kembali lagi. Jadi, cinta diawali rasa saling percaya atau percaya diawali rasa saling cinta? Jawablah. Kunikmati tapakan yang kulalui, kunikmati rasa sakit menghantam. Bukan, bukan fisiku yang sakit aku yakin kamu tau apa yang sakit. Ada yang penah berkata padaku “Jangan penah kamu berusaha melupakan seseorang, karena setiap kali kamu berusaha utuk melupakan itu artinya kamu berusaha mengingat kembali kepingan-kepingan kejadian dimasa lalu. Maka cara terbaik adalah menggenggam kenangan itu erat-erat dan menerimanya dengan senyuman” setujukah kamu? Entah kenapa kali ini aku setuju.

            Jika ada kata bosan, pantaskah itu disebut sebagai cinta? Jika mengenal kata lelah, pantaskah itu disebut cinta? Jika mengenal kata benci, pantaskah itu disebut cinta? Jawablah. Ketika semua harapan indahku telah ku sampaikan padanya, mengapa ia malah berbalik diri? Ketika semua rasa percayaku telah ku kasih padanya, mengapa ia malah menjauh? Ketika semua cerita telah ku ceritakan padanya, mengapa ia semakin acuh?.

            Sampailah aku pada tempat tujuan, tempat dimana kenangan indah selalu tercipta disini. Sampai detik inipun aku akan membuat sebuah kenagan indah dengan konteks yang berbeda. Ingatkah kamu? Ketika air mata membasahi wajahku? Kau menghapusnya dengan lembut. Ingatkah kamu? Saat aku sedih? kamu berusaha menghiburku dengan bunga-bunga dan permainan yang riang. Ingatkah kamu? Saat diri ini merindu? Kau datang dari  belakangku membawa senyuman indah yang selalu mampu membuat tenang hati ini. ingatkah kamu? Saat air tenang? Kita menelusurinya dengan rakit-rakit kecil bercerita panjang yang kadang terselip harapan-harapan indah yang kita buat bersama. Saat ini, detik ini, saat kamu sudah tidak ada lagi, saat senyumu sudah bukan miliku lagi, saat tawamu sudah dipersembahkan untuk orang lain, aku datang kesini membawa semua rasa yang pernah dilalui.


            Aku tau, semua yang telah terjadi dimasa lalu tidak akan kembali terulang sama persis. Menerima, hanya itu yang mampu ku lakukan. Karena bagiku cinta tak mengenal benci. Saat terluka karena cinta, seharusnya kita tahu itulah resiko jatuh cinta. Ketika rasa kecewa dan sedih didatangkan oleh cinta, ingatlah bahwa kita pernah bahagia bersamanya. Jadi apa yang harus kita sesali? Bagiku waktu-waktu bersamanya tak pernah terbuang sia-sia. Karena aku yang telah menerimanya masuk dalam cerita hidupku, aku yang telah mengizinkannya menciptakan cerita-cerita hidup bersamaku, aku yang telah percaya bahwa dia akan membuatku bahagia. Karena tindakan PENERIMAAN lebih baik daripada usaha MELUPAKAN. Saat kau merindu, biarkan ia mengalir dikepalamu namun berusahalah untuk tidak mengalir dihatimu. Sebagai penutup ada seseorang yang pernah berkata padaku “Kamu boleh sakit hati, tapi kamu tidak boleh menutup hatimu untuk orang lain”

0 komentar:

Posting Komentar