Sabtu, 10 Juni 2017

Senja Dikala Itu



        Siapa yang dapat menebak bahwa sesuatu akan berahir dengan cepat ataupun lambat? Siapa yang dapat menebak bahwa seuatu akan menjadi awal ataupun akhir?

          Seperti senja yang menjadi penanda datangnya malam, seperti awan gelap yang menjadi penanda hujan, ataupun seperti hari-hari itu penanda kamu akan pergi. Seperti layaknya manusia dibumi, akan merasakan sedih yang mendalam dihari-hari pertama kehilangan seseorang yang amat disayang. Lantas jika kamu bertanya masihkah aku sedih? aku akan menjawab tidak dengan melukiskan senyuman di wajah. Kemudian bila kamu bertanya apakah aku masih mengharapkanmu? Maka aku akan menjawab ‘entahlah’. Dan lagi jika kamu bertanya apakah aku masih menyayangimu? Dengan tegas aku menjawab ‘ya’.

          Pertemuan memang akan berakhir menjadi perpisahan, ini adalah siklus wajar. Benar kata orang bahwa kamu tidak boleh lari atas kenyataan yang terjadi. Aku salah, ku akui diri ini telah salah dalam mengambil langkah. Padahal aku sendiri yang mengajarkan orang lain agar tidak menghindar atas rasa sedih yang datang kedalam kehidupannya. Ya, aku lari, aku telah berusaha lari. Namun tetap saja semua rasa itu kembali datang, kembali memeluk ku.

          Apakah aku bahagia dengan segala kegiatan yang aku buat selama ini? ‘ya’ itulah jawabanku, namun tetap tak sebahagia saat aku menjalankan hari-hari dengan mu. Semua kini terasa hampa, aku semakin merindukanmu. Hey, izinkan aku bertanya. Apa kabarmu? Bagaimana sekolahmu? Bagaimana hari harimu? Hmm kurasa kamu akan menjawab semuanya dengan ‘baik-baik saja’. Tapi, pertanyaan terpentingnya bukan itu tapi : mengapa kamu pergi tanpa memberikan alasan sedikitpun?.

          Aku memang tak seperti yang lain jika masih sayang maka mulailah membuka obrolan, menawarkan apapun agar dapat kembali, melakukan hal-hal yang dapat membuat seseorang luluh. Bukan, bukan aku tak bisa melakukan itu. Hanya saja, aku tau kamu sedang sibuk-sibuknya. Percayalah alasanku melepaskan mu bukan karena rasa sayang itu sudah tidak ada melainkan aku paham cinta adalah melepaskan. Kamu berhak mendapatkan impian-impian besarmu, walaupun semua itu harus dibayar dengan melepaskan ku. Menyesal? Hahaha aku tidak menyesal karena kamu membuktikan kamu perlahan mendapatkan mimpimu. Aku bangga terhadapmu, sejak dulu hingga saat ini.

          Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu, pernah menjadikan kamu bagian terpenting di hidup ini. Aku bangga pernah menemanimu melewati masa-masa sedih kala itu, aku bangga pernah menjadi masalalu orang yang hebat kelak seperti kamu. Rasa sayang ini membuatku bertahan, walaupun aku tak tahu akan menjadi apa ujungnya nanti. Biarlah, biarlah aku merawat taman kita ini, taman yang sudah tidak pernah lagi kamu kunjungi. Biarlah, biarlah aku yang masih menggenggam mimpi-mimpi indah kita dihari nanti, walaupun kamu sudah bersikap tak perduli.

          Benar apa yang kamu bilang di hari itu 30 Desember 2016 “Semua hal negatif itu ketutup sama rasa sayang lu ke gue, mau gue apain juga lu tetep sayang sama gue, jadi no matter what i do, you still love to me, and than anything can be better”


✮✮✮Salam rindu 100315 💕💕💕

Jumat, 14 April 2017

#1 Bulan terakhir untuk awal



                Bulan penutup tahun, tak selamanya menjadi akhir. Akulah yang membuktikannya bahwa inilah awal perjalanan kali ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tetesan air dari langit menjadi rutinitas setiap hari. 
                “nanti malam jadi kan kita akan berpesta dirumah lo?” ucap salah salah satu teman organisasiku. “jadi dong, kabari saja bila mau menuju kerumah nanti malam” balasku. “siappppp” ucapnya sambil menunjukan ibu jari kanannya kepadaku. 

                Malam yang hangat dipenghujung tahun, terlewati dengan beribu canda tawa dalam satu malam. Tepat pukul 00.00 langit menggema, bukan, ini bukan langit yang bersuara, bukan pula langit sedang berteriak untuk mengeluarkan sedihnya, bukan, bukan itu. Para penduduk bumilah yang telah menggemakan langit, mereka sedang berlomba-lomba menghias langit. Namun sayang, hanya beberapa menit semua keindahan itu bertahan.

                Selang satu jam setelah acara meriah dilangit, mereka kembali pulang. Pesta pun berakhir dengan ditutupnya tahun lalu dan dibukanya tahun ini. Esoknya seperti sudah menjadi rutinitas warga Jakarta, menikmati masa-masa libur tahun baru dengan mengunjungi tempat-tempat wisata. Tenanglah, aku takan bahas ini.

                Beberapa hari setelah tahun baru, dipertengahan bulan januari, hari dimana aku mengenang hari dimana pertama kali aku melihat dunia. Kawan-kawanku berkunjung kerumah, katanya merayakan. Dia datang berbaur dengan yang lain, sungguh tak ada hati saat itu, sungguh tak ada perasan saat itu. Empat hari setelah hari bahagia itu, kabar pedih itu datang. Entah rasa apa ini, serasa sudah dibuat terbang hingga menggapai awan namun seketika dijatuhkan hingga ke dasar jurang. Orang lain yang ku anggap benar kata-katanya, ternyata mengkhianati. Tapi tenanglah bukan ia yang akan kuceritakan, tapi dia yang sebelumnya pernah ku sebut.

                “sudah gue kasih taukan kemaren? Dia itu gak bisa lo percaya, gue kenal hampir semua mantannya. Udah hapal lah gua tabiatnya dia gimana. Masih aja lo percaya sama dia” ucapnya yang hanya memperkeruh suasana. “iya gue tau gue salah, udah percaya sama dia” hanya itu yang bisa ku katakan untuk membalas ucapannya. Kejadian itupun berlalu seiring waktu, namun ada satu hal yang tetap tinggal, siapa lagi kalau bukan dia. Ya dengan adanya kejadian itu, dengan berakhirnya harapan yang selama ini kurajut, ternyata sekaligus berawalnya kisahku dengan dia.

Rabu, 08 Februari 2017

Bersihin Gelas

Haiiiii…..

       Apa kabarmu? Sungguh aku tahu pertanyaan seperti ini sudah tak layak lagi kupertanyakan padamu. Kamu tahu? Aku sedang mengenang hari ini. Hari dimana kamu mulai berjuang, hari dimana kamu memulai membuka lembaran cerita yang kini telah usai. Biarkan aku mengenang……

       Kamu, yang saat itu mengucapkan janji. Janji yang mengubah segalanya, janji yang membuatku mulai berfikir untuk masuk kedalam zona yang bahkan tak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Kasih gue waktu SATU BULAN, dan gue akan bersihkan gelasnya. Jika nanti gue gagal, lo boleh potong jari kelingking gue”

       Terlihat sadis memang saat pertama kali aku membacanya, saat itu bimbang mulai mendekatiku. Aku takut kamu tidak akan berhasil menepati janji itu, aku takut kenangan masa laluku sebelum kamu tak dapat hilang. Aku yang dahulu masih mengharapkannya masih belum bisa melepaskannya dari ingatan.

       Namun, caramu membuktikan membuatku merasa perlahan mulai memupuk keyakinan “KAMU BISA !!!”. Semua hal yang kamu lakukan saat itu, benar-benar tak pernah terfikirkan sedikitpun dibenaku. Belum pernah ada orang yang memperlakukan semua hal itu hanya untuk ku, jika kamu tidak perduli padaku kamu bisa batalkan janji itu. Tapi tidak, kamu terus berjuang.

       Aku ingat dengan jelas, dibulan yang sama tahun itu aku pernah berada di titik down karena laporan pkl yang merajuk pada skripsi. Disaat itu kamu sengan setia mendampingi, menyemangati, melarang, menghibur dan memberikan saran. Rela begadang, hanya untuk mendampingi ku menyelesaikan laporan itu. Kalau kamu tak perduli, kamu bisa tidur saat itu. Tapi tidak, kamu terus mendampingi.

       Setiap hari mulai dihari ini waktu dulu, kamu selalu membahas tentang dia. Sampai ku bertanya “Yang suka sama dia gue atau lo sih? Kok jadi lo yang semangat banget kalo bahas tentang dia”. Tapi kamu tidak berhenti, selalu membahas tentangnya. Mengingatkan kenangan-kenangan yang pernah ku alami bersamanya. Mempromosikan dirinya dengan berbagai kelebihan-kelebihan yang dia miliki. Sungguh, saat itu aku sama sekali tidak paham apa yang kamu lakukan. Kenapa? Membersihkan gelas harus mengingat kembali semua kenangan itu? Mengungkit kembali kisah yang telah lalu? Ini bukan sekali dua kali tapi hampir setiap hari. Lama-lama aku bosan, bosan mendengar namanya, bosan mengingat rasa sakitnya, bosan melihat cerita yang telah lalu. Tapi kamu terus bercerita, cerita tentang dia dan aku.

       Saat ini aku paham, saat itu kamu mengajarkanku bagaimana caranya melupakan lebih tepatnya menetralkan perasaanku padanya. Kamu mengajarkan bahwa “berusaha melupakan” bukanlah solusi terbaik. “semakin berusaha melupakan, semakin sulit untuk melupakan. Karena dengan berusaha melupakan kita juga berusaha mengingat”. Jawaban terbaik ialah “Menerima”.

       Sampai hari ini, aku tak pernah lupa kenangan bersamanya, tapi aku lupa bagaimana perasaanku padanya. Aku masih bisa bercanda tawa dengannya, mendengarkan ceritanya, berbagi motivasi, berdiskusi, chatingan, tapi semua itu netral. Sungguh, aku lupa bagaimana rasanya menyukainya (menyukai dalam artian yang berbeda), aku lupa bahwa dia pernah ku perjuangkan, aku lupa bagaimana aku pernah kecewa karenanya. Kamu tau? Itu semua karena kamu.

Haiiiii……..

       Bagimana? Ingatkah kamu akan cerita yang telah kuceritakan? Lantas saat ini kamu pasti tahu, gelas bersih itu kini telah kotor. Sama seperti pertanyaan kecemasan ku saat itu, saat aku menolak kamu berjanji.

“Gue bukan gak percaya sama lo, gu cumin takut. Gue takut kalau nanti setelah gelasnya bersih gelas itu akan kembali kotor dengan cairan yang lebih pekat dan semakin susah untuk dibersihkan”


       Mau kah kamu memberikanku saran atas pertanyaanku ini : “Beritahu aku bagaimana caranya aku membersihkan kembali gelas ini?”. 

Selasa, 31 Januari 2017

#Pembuka



                Start! Oke gue memutuskan untuk menuangkan seluruh kisah kasih gue dalam sebuah tulisan. Tidak bermaksud untuk pamer, tidak bermaksud menjelekan, apapun yang akan kalian katakan setelah membaca kisah ini itu hak kalian. Yang perlu digaris bawahi disini ialah tulisan ini gue buat agar suatu saat dapat gue baca kembali, sebagai potongan kejadian yang pernah terjadi di hidup gue. Dan mohon maaf atas nama-nama yang akan muncul di dalam kisah ini, percayalah tidak ada unsur kejahatan atas hal itu. Nama-nama yang muncul dalam tulisan ini semata-mata untuk menyempurnakan kisah yang memang pernah terjadi, gue hanya ingin suatu saat nanti mampu mengingat dengan jelas detail kisah ini.

                Waktu kecil gue diasuh sama mbah (nenek) gue, ibu dari bokap gue. Bisa dibilang gue deket banget sama beliau ketimbang sama nyokap gue. Selama diasuh sama mbah, hidup gue penuh larangan. 

Jangan naik-naik, nanti jatoh!
Jangan pegang itu, nanti kesetrum!
Jangan makan es, nanti sakit!
Jangan main hujan, nanti demam!
Jangan makan gorengan, nanti batuk-batuk!
Jangan jauh-jauh mainnya, nanti diculik!
Jangan main tanah, kotor!
Jangan sentuh itu, nanti pecah!
Jangan lari-larian, nanti jatoh!
Jangan berharap, nanti baper! *lho(?)

                Dulu sih gue enjoy aja dilarang-larang, asalkan jajan gue lancar dan bisa main. It’s okay. Gue diasuh sama mbah hanya sampai kelas 3 SD semester 1. Setelahnya, gue pindah bersama orang tua gue ke daerah tangerang selatan. Melanjutkan sekolah di daerah ini sampai gue kuliah. Dikota inilah  kisah gue dimulai…..

Sabtu, 24 Desember 2016

malming absurd

Selamat malam sobat.
Selamat ketemu dimalam minggu.
Selamat merasakan dinginnya udara malam di akhir desember ini.
Selamat beristirahat dirumah bagi kalian yang menjomblo eh single.
Selamat menikmati hangat di tengan dingin buat kalian yang jalan sama doinya dimalam ini.

       Seperti biasa gue bakalan dongengin kalian, eh tapi kali ini bukan dongeng. Siapa yang tidak kenal dengan penyanyi yang bernama “TULUS” ? ituloh yang katanya bakalan nungguin 1000 tahun lamanya tapi baru sebentar udah minta pamit wkwkwk #Peacekaktulus. Kalian pasti tahu single tulus yang berjudul “Ruang Sendiri”, lirik dalam lagu ini rada tersurat menurut gue. Nyindir banget!

       Dimalam minggu kedua sebelum terakhir di tahun 2016 ini, tiba-tiba gue pengen banget ngulas ini lagu. Gue gak bakalan nulis kata-kata yang dikarang-karang, yang kalian baca ini adalah kata-kata asli yang gue alamin sendiri. Oke kita mulai dari bait awal lagu ini.
Beri aku kesempatan
tuk bisa merindukanmu
Jangan datang terus
Beri juga aku ruang
Bebas dan sendiri
Jangan ada terus
                Tuhkan kalian bisa baca sendiri, lirik lagu ini nyindir secara tersurat “Jangan datang terus dan Jangan ada terus”. Kalian diusir guys 😃😃 wkwkwk. Yang perlu kalian tahu, gue bakal cerita dari sisi yang disuruh pergi, dari sisi yang “ingin selalu bersama”. Bagi gue lagu ini mayan nampar, seketika gue sadar apa yang dimaksud doi. Kalian gak perlu tau siapa, cuku tau “doi” hahaha. Cukup baca jangan resapi! Bahaya!

x : “Lo sekarang berubah gak kayak dulu lagi. Dulu se sibuk-sibuknya lo pasti lo sempet buat 
       ngabarin. Bahkan disaat gue sibuk, lo selalu Tanya ‘lagi sibuk ya?’ sekarang? Gak pernah
       lagi gue denger itu”
y : “maafin gue, maafin gue yang belom bisa ngebagi waktu gue buat lo. Maafin gue
       yang belom bisa ngatur jadwal antara tugas-tugas gue sama lo”
x : “tapi kenapa lo bisa chatan sama yang lain? Lu online ada notifnya, selama lu online
       apa yang lu lakuin?”
y : “baca  grup”
x : “just it? Cuman baca-baca grup? Lalu apa yang membuat lo gak bisa membalas
       pesan gue? kalo baca grup aja bisa, kenapa pesan gue gak bisa? Gak sampe satu
       menit kok buat ngetik pesannya, buat ngasih tau kabar lo”
y : “maaf”
x : “jawab gue! kenapa? Apa alasan lo ngelakuin semua ini? berarti bener gue
      bukan lagi prioritas lo”
y : *diam*
x : “jawab! Benerkan gue emang bukan lagi prioritas lo”
y : “gue cuman butuh waktu sendiri, gue butuh bebas dari sangkar, gue pengen
       bebas kedunia luar”
x : *diem*

       Sudah diperingatkan jangan dihayatin baca percakapannya. Waktu itu gue gak paham, wajar gak sih? Kalo menurut gue sih karena gue udah terbawa emosi makanya gak paham maksud baik dari semuanya. Dulu fikiran negative selalu muncul, salah satunya ya itu “gue bukan lagi prioritas lo”. Hari ini gue udah mulai terbiasa balik ke keadaan normal bersamanya, gak sengaja saat sedang asyik download lagu tersetelah lagu TULUS – Ruang Sendiri doi bilang “bagus nih lagunya” gue yang penasaran dengerin lagunya sampe abis. Dan disaat itu pula gue berasa ditampar sama lagu ini.
Ku butuh tau seberapa ku butuh kamu
Percayalah rindu itu baik untuk kita
       Kalau kamu yang selalu bilang sayang setiap hari, yang selalu bilang rindu (padahal tadi pagi baru ketemu), yang selalu bilang cinta setiaphari, atau kata-kata romantis setiap harinya pernah gak sih merasa bosen? Mungkin bagi lo yang memulai atau yang katanya “cintanya paling gede” kalian bakalan bilang ak pernah bosen malah ikhlas dan seneng melakukannya. Tapi pernah gak sih kalian berfikir pasangan kalian itu bosen atas apa yang kalian lakukan? Bukan, bukan maksud bosen cinta sama kalian yang artinya udah gak cinta dan sayang lagi sama kalian bukan itu. Terkadang kata “sayang dan cinta” yang sering diucapkan akan menjadi hambar. Gini deh, kalau lo disukain sama seseorang yang pertama kata-katanya romantis banget gampang bikin luluh tapi dia gampang bilang sayang kesemua orang, yang kedua orangnya gak terlalu romantic tapi susah banget bilang sayang apalagi cinta but sekalinya bilang sayang itu beneran sayang tulus. Nahhh dari pilihan diatas yang mana yang bakal lo berikan nilai tinggi? Gue sih bakalan milih yang ke dua.
Pagi melihatmu
Menjelang siang kau tahu
Aku ada dimana sore nanti
Tak pernah sekalipun
Ada malam yang dingin
Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa ku hargai

Semakin sering gue bersama sama doi, semakin berkurang kata “rindu”. Jelaslah, untuk apa ada kata ‘rindu’ jika bisa berjumpa setiap hari?. Padahal rindu itu perlu, karena rindu kita lebih menghargai yang namanya pertemuan, moment yang terciptapun moment-moment yang indah yang tak terlupakan. Semakin sering bersama semakin sedikit kemungkinan terciptanya moment special, karena yang special tidak ada duplikatnya.
Baik buruk perubahanku
Tak akan kau sadari
Kita berevolusi
Bila kita ingin tahu
Seberapa besar rasa yang kita punya
Kita butuh ruang
        Kalian pasti kesulitan menyadari ada yang berubah dengan seseorang kalau kalian terus bersama. Tapi disaat kalian terpisah oleh jarak, maka dengan mudah kalian menyadari perubahan itu. misalnya, selama 6 bulan lo sekelas dengan sahabat lo, selama itu lo bakalan sulit liat perubahan yang terjadi padanya. Setelah itu lo libur selama 2 bulan, pas masuk keliatan deh bedanya. Entah jadi makin cantik/iteman/gendutan/kurusan/makin putih/makin tinggi/jadi tembem/jadi tirus/jadi galak/jadi gampang baper/sensian/makin gila/murung terus/bahagia terus atau yang lain sebagainya.

             

Jumat, 23 Desember 2016

Jawab sendiri!

Jangan bersuara!
Jangan berdebat!
Jangan menghakimi!
Jangan menuntut sama!

Karena ditulisan saat ini hanya ada pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya dapat kalian simpulkan sendiri. Pertanyaan yang dimana setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda. Ingat! Jawab dengan keyakinan kalian masing-masing, jangan ragu sebab aku sudah mendahuluinya dengan kata “Jangan”.

Baiklah, kita awali dengan cerita sederhana. Sesederhana dongen masa kecil.

            Saat matahari malu-malu menampakan sinarnya, awan pun ikut membantu menyembunyikan matahari seolah-olah tau apa yang matahari butuhkan. Ketika sang awan menemui satu diantara miliyaran penduduk bumi sedang bersedih, ia perlahan menurunkan butiran-butiran air ke bumi seolah-olah tau apa yang dibutuhkan seseorang itu.

            Perlahan aku merasakan tetesan air menyentuh tubuhku, semakin banyak mereka mendatangiku. Hujan, begitulah orang menyebutnya. Aku selalu suka hujan, bagiku hujan selalu mampu menemaniku saat sedih. Membantuku untuk menutupi aliran bening dari mata ini. Memberikanku kesempatan untuk menyatakan semua yang kurasa, di tengah derasnya dengan suara-suara menggebu dari langit.
       Apakah cinta harus berujung dengan benci? Apakah cinta mengenal kata bosan? Apakah cinta selalu ada tangisan? Jawablah. Aku hanya mampu menjawab pertanyaan yang terakhir, dan jawabannya “akan selalu ada”. Ku telusuri jalan licin dari kerikil hitam padat ini, menuju sebuah tempat yang menurutku paling indah, indah bila bersamanya. Tubuh ini menghantam miliyaran air dari langit, sama sekali tak mengeluh karena memang inilah yang dibutuhkan. Tiangku telah hilang, entah hilang selamanya atau nanti ia akan kembali lagi. Jadi, cinta diawali rasa saling percaya atau percaya diawali rasa saling cinta? Jawablah. Kunikmati tapakan yang kulalui, kunikmati rasa sakit menghantam. Bukan, bukan fisiku yang sakit aku yakin kamu tau apa yang sakit. Ada yang penah berkata padaku “Jangan penah kamu berusaha melupakan seseorang, karena setiap kali kamu berusaha utuk melupakan itu artinya kamu berusaha mengingat kembali kepingan-kepingan kejadian dimasa lalu. Maka cara terbaik adalah menggenggam kenangan itu erat-erat dan menerimanya dengan senyuman” setujukah kamu? Entah kenapa kali ini aku setuju.

            Jika ada kata bosan, pantaskah itu disebut sebagai cinta? Jika mengenal kata lelah, pantaskah itu disebut cinta? Jika mengenal kata benci, pantaskah itu disebut cinta? Jawablah. Ketika semua harapan indahku telah ku sampaikan padanya, mengapa ia malah berbalik diri? Ketika semua rasa percayaku telah ku kasih padanya, mengapa ia malah menjauh? Ketika semua cerita telah ku ceritakan padanya, mengapa ia semakin acuh?.

            Sampailah aku pada tempat tujuan, tempat dimana kenangan indah selalu tercipta disini. Sampai detik inipun aku akan membuat sebuah kenagan indah dengan konteks yang berbeda. Ingatkah kamu? Ketika air mata membasahi wajahku? Kau menghapusnya dengan lembut. Ingatkah kamu? Saat aku sedih? kamu berusaha menghiburku dengan bunga-bunga dan permainan yang riang. Ingatkah kamu? Saat diri ini merindu? Kau datang dari  belakangku membawa senyuman indah yang selalu mampu membuat tenang hati ini. ingatkah kamu? Saat air tenang? Kita menelusurinya dengan rakit-rakit kecil bercerita panjang yang kadang terselip harapan-harapan indah yang kita buat bersama. Saat ini, detik ini, saat kamu sudah tidak ada lagi, saat senyumu sudah bukan miliku lagi, saat tawamu sudah dipersembahkan untuk orang lain, aku datang kesini membawa semua rasa yang pernah dilalui.


            Aku tau, semua yang telah terjadi dimasa lalu tidak akan kembali terulang sama persis. Menerima, hanya itu yang mampu ku lakukan. Karena bagiku cinta tak mengenal benci. Saat terluka karena cinta, seharusnya kita tahu itulah resiko jatuh cinta. Ketika rasa kecewa dan sedih didatangkan oleh cinta, ingatlah bahwa kita pernah bahagia bersamanya. Jadi apa yang harus kita sesali? Bagiku waktu-waktu bersamanya tak pernah terbuang sia-sia. Karena aku yang telah menerimanya masuk dalam cerita hidupku, aku yang telah mengizinkannya menciptakan cerita-cerita hidup bersamaku, aku yang telah percaya bahwa dia akan membuatku bahagia. Karena tindakan PENERIMAAN lebih baik daripada usaha MELUPAKAN. Saat kau merindu, biarkan ia mengalir dikepalamu namun berusahalah untuk tidak mengalir dihatimu. Sebagai penutup ada seseorang yang pernah berkata padaku “Kamu boleh sakit hati, tapi kamu tidak boleh menutup hatimu untuk orang lain”

Sabtu, 04 Juni 2016

LANGITPUN TAU CARANYA MENGUNGKAPKAN

          Pernahkah kah kau bersedih? Kurasa setiap orang pernah mengalaminya. Pernahkah airmata itu turun mengalir dipipimu? Percayalah menangis bukan pertanda kita lemah. Hanya saja cara untuk meredakan suasana, suasana hati.

           Kau pernah melihat hujan? Apakah kau suka hujan? Atau kau selalu menanti datangnya hujan? Lihatlah langit ketika sedang turun hujan. Kau tau? Langit sedang mengajarkanmu sesuatu dengan menurunkan hujan. Mengajarkanmu caranya mengungkapkan. Lihat! Langitpun mengungkapkannya dengan menjatuhkan butiran air ke bumi. Apakah langit lemah? Tidak. Langit tidak lemah, namun ia sedang meredakan suasana sekaligus memberi tahu caranya mengungkapkan.

           Menangislah jika memang itu mampu meredakan kesedihanmu. Tapi ingat kau pun jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. Jangan pula kau bersedih terlalu berkepanjangan. Hey? Apa yang kau sedihkan? Bila dunia kejam terhadapmu, ubahlah ia. Ubah dunia mu, kau yang menentukan ingin seperti apa dunia mu. Kau boleh bersedih, tapi tersenyumlah segera dan hapus air matamu. Bila tidak mampu bersiaplah akan masalah baru.

          Kau pernah lihat hujan yang terus menerus? Apa yang akan terjadi? Kurasa kau tau apa jawabannya. Hujan pertama akan meredakan suasana, membuat beberapa orang yang menantinya tersenyum. Tetapi hujan yang terlalu larut akan membuat senyuman mereka berubah menjadi ketakutan, meresahkan yang ada di bumi dan membuat masalah baru.

           Pernahkah kau melihat langit setelah hujan? Hujan yang tidak terlalu larut yang ku maksud. Bagaimana? Adakah pelangi? Ya biasan cahaya yang selalu mampu membuat orang yang melihatnya tersenyum bahkan takjub. Yang membuat pasang mata enggan melewatkan moment itu. langitpun kembali menjadi cerah setelah selesai dengan kesedihannya. Memberikan sinar semangat dari sang mentari. Kau ingin seperti apa? Hujan yang terlalu larut atau hujan yang mampu mendatangkan pelangi? Kau tau apa yang terbaik untukmu.